Drama Kolosal Perjuangan Jenderal Sudirman - LENSA COMANDO

Post Top Ad

Hosting Unlimited Indonesia

Friday, October 6, 2017

Drama Kolosal Perjuangan Jenderal Sudirman


JAKARTA, Lensacomamdo.com - Danrindam Jaya/Jayakarta Kolonel Inf Anton Yuliantoro telah mempersiapkan penampilan khusus untuk memperingati HUT ke-72 TNI yang diselenggarakan Kodam Jaya di Lapangan Syeh Maulana Yusup, Tigaraksa Tangerang Banten, Kamis (5/10). Pertunjukan itu adalah drama kolosal yang menceritakan perjuangan Panglima Jenderal Sudirman, yang diperankan oleh prajurit, ASN, Persit Rindam Jaya, dan segenap Elemen Masyarakat Kota Jakarta.

Pertunjukan dibuka dengan Biogarafi Sudirman. Pada 24 Januari 1916 di desa Bodaskarangjati, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, dari pasangan Karsid Kartawiraji dan Siyem lahirlah seorang calon pemimpin Nasional yang hidup dalam kesederhanaan, penuh disiplin, cerdas dan rajin, bernama Sudirman.

Pada 1923, Sudirman sekolah di HIS (Hollands Inlandsche School) di Cilacap. Kemudian masuk ke sekolah Taman Siswa, pendidikannya kemudian dilanjutkan ke sekolah MULO (Middelbar Uitgebreid Lagere Onderwijs) atau saat ini SMP. Setahun kemudian ia pindah ke Perguruan Parama Wiworotomo dan tamat pada tahun 1935. Setelah lulus dari Parama Wiworotomo Sudirman, saat itu penjajahan Belanda atas bumi nusantara masih berlangsung.

Segment berikutnya, masuknya tentara Jepang ke Indonesia, menyerang Belanda dan menduduki hampir di semua wilayah Indonesia. Jepang pun memulai penjajahannya, puluhan ribu rakyat dijadikan Romusha dan dikirim ke Kamp-kamp kerja paksa. Sungguh saat itulah sejarah perlakuan terkejam yang dialami rakyat Indonesia.

Dengan propagand sebagai “saudara tua” dan bahwa kelak kepada Indonesia akan diberikan kemerdekaan setelah perang Asia Timur Raya memperoleh kemenangan, Jepang mendirikan tentara Pembela Tanah Air (PETA) pada Oktober 1943. Setahun mengikuti pendidikan militer pada 10 Agustus 1944, Sudirman diangkat menjadi Daidancho.

Jepang akhirnya menyerah kepada sekutu setelah Nagasaki dan Herosima dijatuhi bom atom pada 6 dan 9 Agustus 1945. Moment ini dijadikan momentum untuk memproklamirkan kemdekaan pada 17 Agustus 194.

Saat Proklamasi di umumkan, Sudirman melarikan diri dari tahanan Jepang di Bogor dan setelah menemui Soekarno kemudian membentuk Badan Keamanan Rakyat ( BKR ) di Banyumas dengan anggota bekas pasukan PETA dan langsung melucuti persenjataan milik Jepang. Pasukan inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya TNI. Dan Presiden Soekarno membentuk Tentara Keamanan Rakyat pada Tanggal 5 Oktober 1945 yang menjadi hari Lahirnya TNI. Saat itu Sudirman diberi pangkat Kolonel.

Di tengah kehidupan rakyat Indonesia yang menikmati masa-masa kemerdekaan, namun semua berubah ketika pasukan Belanda datang kembali membonceng tentar Nica. Belanda berhasil menduduki Kota Ambarawa.

Pasukan TKR pimpinan Kolonel Sudirman terus menggempur pasukan Sekutu, mengepung dari segala arah dengan taktik Supit Udang, setelah bertempur selama 4 hari, pada 15 Desember 1945 TKR berhasil merebut Ambarawa. Tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Juang Kartika. Pada tanggal 18 Desember 1945 Sudirman dilantik menjadi Panglima Besar dengan cara pelantikan yang sangat unik, Presiden Soekarno sambil merangkul Sudirman di hadapan para komandan-komandan TKR berkata “Ini Panglima Besarmu”.

21 Juli 1947 terjadi peristiwa Agresi Militer Belanda I, dan 19 Desember 1948 Belanda melancarkan Agresi Militer II untuk merebut ibu kota Yogyakarta yang saat itu menjadi ibukota Republik Indonesia. Pukul 07.00 lapangan udara di Maguwo berhasil diambil alih oleh pasukan Belanda di bawah pimpinan Kapten Eek hout. Belanda merebut Yogya hanya dalam hitungan jam.

Suara tembakan senjata dan dentuman bom pun terdengar nyaring. Bendera-bendera tentara Belanda berkibar mengelilingi rakyat yang tak berdaya. Suasana semakin dibuat mencekam oleh ledakan bom asap dari pesawat yang terbang rendah. Dikisahkan, banyak tentara rakyat yang gugur.

Kisah dilanjutkan dengan keberangkatan Panglima Besar Jenderal Sudirman dari Yogyakarta menyusuri pegunungan dan hutan untuk bergerilya. Dalam tubuh yang rapuh karena penyakit TBC, Sudirman menulis sepucuk surat perintah kilat kepada seluruh angkatan perang untuk melawan, kemudian disampaikan melalui stasiun radio RRI.

Presiden menasihati agar Sudirman (panglima besar) kembali kerumah karena masih sakit, presiden mengajak untuk tinggal di dalam kota dan Pak Dirman menjawab :
“Tempat saya yang terbaik adalah ditengah-tengah anak buah. Saya akan meneruskan perjuangan. Met of zondert,, pemerintah TNI akan berjuang terus”. “Saya sakit, saya istirahat, tapi kalau musuh menyerang, insya allah saya akan memegang pimpinan kembali, buat saya yang penting adalah anak buah saya.

Pemerintah pusat dievakuasi ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat atas desakan Sultan Hamengkubuwono IX , namun para pimpinan, Soekarno, Hatta, Sjahrir dan hampir seluruh pejabat negara saat itu ditangkap dan diasingkan oleh Belanda.

Ibukota negara boleh jatuh, presiden boleh ditawan, tapi TNI tidak pernah menyerah. Benteng terakhir republik ada dalam hati para prajurit. Sudirman memimpin rapat strategis. Pertemuan ini menghasilkan rencana Serangan Umum 1 Maret 1949 terhadap kota Jogyakarta yang dipimpin komandan Brigade X/Wehrkreis III Yogyakarta Letkol Soeharto.

Serangan umum terhadap kedudukan Belanda dikota Jogyakarta dimulai. Serangan besar besaran dan serentak dilakukan oleh seluruh Divisi-Divisi, Semua pos pos Belanda dihancurkan, serangan juga dilakukan di kota Solo, Semarang dan Magelang sehingga Belanda tidak dapat mengirimkan bala Bantuan ke Jogya. Jalur tranportasi darat dan jembatan dihancurkan sehingga posisi Belanda terkepung di dalam kota Jogyakarta.

Serangan Umum ini juga terus diberitakan melalui Radio-Radio dan media Internasional sehingga dunia tahu bahwa Indonesia mampu melakukan perlawanan terhadap Belanda
dan tak lama kemudian dipimpin oleh Letkol Slamet Riyadi Serangan Umum juga dilakukan di kota Solo secara besar besaran selama 4 hari sebelum diberlakukannya Gencatan Senjata. Sehingga kota Solo berhasil direbut dan diserahkan kepada Indonesia.

Serangan serangan yang dilakukan para Gerilyawan membuat posisi tawar Republik Indonesia semakin kuat dimata Dunia Internasional, sehingga akhirnya didapatkan pengakuan kedaulatan Republik Indonesia pada Konferensi Meja Bundar dan mengusir Belanda dari Bumi Indonesia untuk selama-lamanya.

Pada 10 Juli 1949 Panglima Besar Jenderal Sudirman dan rombongan kembali ke Yogya. Di sepanjang jalan rakyat berjejal-jejal menyambut dengan meriah. Mereka ingin melihat wajah Panglima besar yang lebih suka memilih medan gerilya daripada beristirahat di tempat tidur. Kehadiran beliau yang pertama sesudah bergerilya pada saat parade militer penyambutan Panglima besar di alun alun Yogya, rasa haru dan kagum bercampur menjadi satu. Hal itu menunjukkan betapa agungnya Jenderal Sudirman di hati
anak buahnya.

Sesuai jasa dan pengabdiannya pemerintah memberikan penghargaan tertinggi berupa gelar Pahlawan Nasional. Namun lebih dari itu, tokoh prajurit TNI Jenderal Sudirman memperoleh tempat terhormat di hati bangsanya dalam sejarah TNI sebagai Bapak TNI.

Danrimdam Jaya, menyampaikan agar pertunjukan atau pementasan drama kolosal“ Panglima Besar Jenderal Sudirman “, yang baru saja disaksikan dapat menjadi contoh bagi semua elemen Bangsa Indonesia dan menjadi teladan bagi seluruh generasi masyarakat Indonesia untuk terus berjuang dan membangun bangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. (ril/Gal)

Post Bottom Ad

Hosting Unlimited Indonesia